EDUKASI DUIT: Tiga Kesalahan Berinvestasi

Kamis | 24 Agustus 2017


EDUKASI DUIT: Tiga Kesalahan Berinvestasi

Goenardjoadi Goenawan | Bisnis.com

JAKARTA — Suatu kali, ada pertanyaan dari yang membaca artikel ini yang kira-kira begini bunyinya. Dengan aset ruko senilai Rp700 juta, saya ingin aset tersebut bisa untuk pinjam ke bank lalu akan saya kembangkan usaha properti.

Pada 2016, saya pernah mencoba mau pinjam ke bank dan dari bank menawarkan pinjaman Rp500 juta. Lantas jawaban saya seperti apa?

Begini, ada tiga kesalahan utama dalam berinvestasi. 

1. Anggarkan dana cadangan. 

Warren Buffet mengatakan bila ingin mengukur kedalaman danau, jangan masukkan kedua kaki,  bisa tercebur. Begitu kira-kira analoginya. Caranya dari pinjaman jangka panjang Rp500 juta tersebut,  jangan dianggarkan semua.  Cukup separuh, jadi anggaran Anda Rp200 juta—Rp300 juta.

Banyak yang tercekik karena anggaran terlalu mepet sedangkan usaha properti adalah jangka panjang

2. Kurangi risiko dengan bergabung dengan orang lain. 

Cobalah bergabung dengan modal orang lain untuk usaha properti. Tetapi sekarang masih lesu,  mungkin bisa ditunda 2 tahun atau 3 tahun lagi. Pengalamannya, banyak yang ambil risiko sendiri.  Dengan bergabung risiko dikurangi. 

3. Leverage kepada investor besar.

Bila Anda sabar cari developer KPR yang murah tapi ber-reputasi bagus. Cicil uang muka 2 tahun mungkin nanti 2 tahun atau 3 tahun harga naik.  Cari yang lokasi dan transpotasinya baik, jalan lebar,  cukup ramai,  di dekat developer besar.

Uang itu pasti berkembang karena bersatu mengikat kepada komitmen developer besar.  Mereka punya proyek Rp20 triliun sampai dengan Rp30 triliun yang tidak mungkin gagal

Jawaban saya kira-kira begitu pada waktu itu. Lantas, kita baru saja juga melihat kehebohan di salah satu pusat belanja di Jakarta yang pada rebutan sepatu diskon merek terkenal.  Apakah makna fenomena rebutan barang diskon ini? 

Masyarakat Indonesia memiliki salah persepsi mengenai konsep kekayaan.  Mereka memandang bahwa memiliki mobil,  sepatu merek terkenal,  jam tangan sebagai simbol kekayaan.  Padahal itu salah. 

Beberapa orang terus gali lubang tutup lubang gara-gara menggunakan kartu kredit atau mengejar barang-barang konsumtif ber-merek.

Indikator kekayaan bukan pada berapa harga mobil Anda. Ada tiga indikator kemakmuran seseorang.

1. Memperoleh penghasilan tetap tambahan secara pasif.  Misalnya ada yang memiliki penghasilan dari sewa kos,  ruko,  atau memiliki restoran. 

2. Memiliki investasi simpanan aset yang bisa menjadi agunan.  Poin kedua ini penting karena bisa menurunkan biaya bunga bank hingga 10 kali lipat lebih rendah dibandingkan dengan bunga kartu kredit. 

Banyak orang yang selamat dari beban biaya hidup yang semakin berat gara-gara mereka rajin investasi cicilan KPR yang sampai 50% dari penghasilan.

3. Memiliki likuiditas tabungan, pasif income atau pinjaman lebih dari 3-6 bulan untuk membiayai gaya hidup saat berhenti bekerja. Nah,  dalam hal ini maka kekayaan bukan indikasi berapa mobilnya dll.

 

Sumber: bisnis.com


 Kembali