EDUKASI DUIT: Begini Cara Mendampingi Pemimpin Perusahaan

Jum'at | 08 September 2017


EDUKASI DUIT: Begini Cara Mendampingi Pemimpin Perusahaan

Goenardjoadi Goenawan | Bisnis.com

JAKARTA — Konglomerasi di Indonesia mengalami babak baru di mana perusahaan-perusahaan kini sudah mencapai generasi ketiga. Dulu ada pepatah generasi pertama membangun pondasi,  generasi kedua mengembangkan ekspansi bisnis, generasi ketiga yang menjadikan ‘monster’ raksasa.

Di beberapa perusahaan keluarga sudah banyak yang berangkat kerja naik Lamborghini,  Ferrari dll. Bagaimana karyawan profesional semakin stres menghadapi fenomena baru ini? 

Peter Principle atau Prinsip Peter, menyatakan bahwa secara hierarki manusia cenderung untuk terus meningkatkan tingkat kompetensinya.

Menurut Peter Principle, makin tinggi rasa ketidakmampuan pada diri seseorang, orang tersebut menjadi takut.

Misalnya ada kasus seorang direktur perusahaan yang sukses membangun salah satu divisi di perusahaan setelah menunjukkan prestasi selama 20 tahun bekerja.  Dia telah menguasai seluk beluk manajemen operasional perusahaan. 

Akan tetapi, semakin ke atas menapak tangga manajemen, rupanya dia menyadari bahwa pimpinan tertinggi CEO perusahaannya tidak konsisten,  tidak fair dan kurang menghargai bawahan. 

Akibatnya banyak profesional yang setara dia bahkan lebih senior memilih untuk mengundurkan diri.  Akhirnya dia mencapai titik inkompetensi. 

Peter principle mengatakan seseorang naik jenjang manajemen,  naik terus hingga mencapai titik inkompetensi.  Inilah yang dialami direktur perusahaan.

Apakah tantangan utama profesional di puncak manajemen?

1. Mereka tidak bisa menebak langkah owner atau CEO perusahaannnya.  Rata-rata owner perusahaan memiliki langkah yang inkonsisten dan tidak pernah mengucapkan terima kasih karena semuanya diukur dengan uang.  Ini disebut Cleopatra complex orang kaya cenderung ingin menang sendiri. 

2. Owner yang merangkap CEO sering tidak mempercayai bawahan.  Ada yang sampai mencurahkan isi hati alias curhat.  "Setiap hari owner menyiksa bawahannya.  Semuanya disuruh antre minta approval owner.  Sekarang owner bilang semuanya diserahkan kepada saya sebagai COO,  bagaimana saya bisa membangun trust system."

Memang dunia owner perusahaan itu gelap seperti ketemu pasien multiple personality. 

Kasus lainnya seorang CEO yang bekerja baik selama 20 tahun berprestasi.  Pada saat terakhir masa jabatannya tiba-tiba merasa gerah dan stres.  Tetapi beban yang paling berat adalah menghadapi suksesi owner perusahaan kepada generasi kedua. 

Owner muda merasa berkuasa dan langkah pertama yang dilakukan adalah menentang CEO.  Ini disebut lion cub challenge.  Seekor anak singa pertama dia menyerang ayah ibunya sebagai bagian natural instinct. 

Owner muda tidak merasa bersyukur selalu merasa kurang terus dan tidak menghargai orang lain.  Ini disebut hedonism complex dari kecil ingin mobil dikasih, ingin apartmen dikasih.  Akhirnya keinginannya memuncak yaitu mengalahkan ayahnya. 

3. Jadi tantangan profesional di puncak kariernya adalah memasuki unknown dunia yang belum diketahui.  Dunia gelap.  Rata-rata setiap profesional setinggi apapun jabatannya mengalami ketidakpastian.  Mengapa? 

Ada dua misteri hidup :

A.  Berapa pesangon pensiun yang diperoleh

B.  Berapa warisan yang bakal diperoleh

Bila keduanya belum diketahui maka selamanya seseorang tidak mendapatkan kepastian. 

Oleh karena itu seorang pemimpin perusahaan harus jeli menghadapi tantangan ini.  Dan mulai mengatasi masalah tersebut di atas. 

Seperti ayam dan telur mana duluan,  apakah ikhlas karena memperoleh reward yang berkelimpahan sehingga bisa mendampingi owner pelan-pelan  belajar bersyukur. Atau harus bersyukur ikhlas totalitas percaya bahwa mendampingi owner pelan-pelan  belajar bersyukur bakal pasti mendapatkan reward berkelimpahan.  Mana yang duluan?  Inilah misteri Peter principle.

 

Sumber: bisnis.com


 Kembali